28 Tahun Reformasi: Mahasiswa Turun ke Jalan, Soeharto Lengser
Peringatan 21 Mei 1998–2026, dari Tragedi Trisakti hingga lahirnya era Reformasi
Penulis: Daniel Priando
Redaktur: Tim Redaksi RBN Sumut
 |
Ribuan mahasiswa menduduki atap Gedung DPR/MPR RI, Mei 1998, menuntut Soeharto mundur. ||Sumber Foto: Arsip Sejarah|| |
SUMATERA UTARA, 21 Mei 2026 — Dua puluh delapan tahun lalu, Indonesia melewati titik balik sejarah. Pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto resmi mengundurkan diri setelah 32 tahun memimpin Orde Baru, dan menyerahkan kekuasaan kepada Wakil Presiden B.J. Habibie. Momen itu menandai lahirnya era Reformasi.
Latar Belakang Krisis
Krisis moneter Asia yang menghantam sejak Juli 1997 meruntuhkan fondasi ekonomi nasional. Nilai tukar rupiah terperosok dari sekitar Rp2.400 per dolar AS menjadi lebih dari Rp16.000 pada awal 1998. Harga bahan pokok melonjak, puluhan bank dilikuidasi, dan gelombang pemutusan hubungan kerja meluas dari Medan hingga Surabaya.
Di tengah himpitan itu, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta dominasi dwifungsi ABRI memicu kemarahan publik. Mahasiswa di berbagai kota — termasuk USU di Medan, ITB, UGM, dan UI — mulai menggelar mimbar bebas menuntut reformasi total, bukan sekadar pergantian kabinet.
Tragedi Trisakti 12 Mei
Puncak kemarahan pecah setelah aparat menembak demonstran di Kampus Universitas Trisakti, Jakarta, pada 12 Mei 1998. Empat mahasiswa — Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie — gugur tertembak.
Peristiwa itu memicu gelombang duka nasional dan kerusuhan besar 13–15 Mei di Jakarta, Solo, Palembang, dan Medan. Tragedi Trisakti mengubah tuntutan gerakan mahasiswa: dari perbaikan ekonomi menjadi desakan tegas agar Presiden Soeharto mundur.
Pendudukan DPR dan 6 Tuntutan
Sejak 18 Mei 1998, puluhan ribu mahasiswa menduduki kompleks Gedung DPR/MPR RI di Senayan. Mereka berkemah di ruang sidang hingga atap gedung, mengibarkan bendera Merah Putih dan membentangkan spanduk "Turunkan Soeharto".
"Reformasi atau mati!" — teriakan yang menggema dari atap DPR itu disiarkan langsung televisi nasional dan disaksikan jutaan rakyat.
Dari mimbar darurat itu lahir enam tuntutan Reformasi: suksesi kepemimpinan nasional, amandemen UUD 1945, pemberantasan KKN, pencabutan dwifungsi ABRI, penegakan supremasi hukum, dan pemilu yang demokratis.
21 Mei Soeharto Mundur
Tekanan politik akhirnya tak terbendung. Pada Kamis pagi, 21 Mei 1998, pukul 09.00 WIB, Soeharto menyampaikan pidato pengunduran diri dari Istana Merdeka.
"Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini," ucapnya terbata. Tak lama berselang, B.J. Habibie diambil sumpahnya sebagai Presiden RI ketiga. Ribuan mahasiswa di Senayan menyambut dengan sujud syukur dan menyanyikan Indonesia Raya.
Warisan Reformasi
Dua puluh delapan tahun kemudian, warisan 1998 masih hidup. Kebebasan pers dijamin, pemilu langsung terlaksana sejak 2004, otonomi daerah diperluas, dan dwifungsi ABRI resmi dihapuskan. Tentara kembali ke barak, polisi dipisahkan dari militer.
Namun pekerjaan rumah tetap besar: pemberantasan korupsi, reformasi hukum, dan kesenjangan ekonomi. Di Sumatera Utara, peringatan 21 Mei tahun ini diisi diskusi kampus, ziarah ke makam aktivis, dan pameran foto sejarah di Medan. Pesannya sama seperti 1998: demokrasi tidak jatuh dari langit, ia harus dijaga — di jalan, di bilik suara, dan dalam keberanian warga untuk mengawasi kekuasaan.