Rupiah Rp17.600 Tembus Rekor Mei 2026, Video Habibie Soal Krisis 1998 Kembali Viral

Ketika Habbie Presiden Ke 3 Republik Indonesia Menghadapi Pelemahan Rupiah
|| Sumber Media: Tim Redaksi RBN Sumut ||


Rupiah Tembus Rp17.600, Video Habibie "Ngalah untuk Menang" Viral di Tengah Ancaman Imported Inflation

MEDAN, 17 Mei 2026 — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencapai level terlemah sepanjang sejarah pada pekan kedua Mei 2026, memicu kembali perdebatan publik tentang prioritas kebijakan ekonomi. Di tengah situasi tersebut, potongan wawancara Presiden ke-3 BJ Habibie di program Mata Najwa "Habibie Hari Ini" kembali viral, dengan pesan utama: mendahulukan stabilitas rakyat ketimbang proyek mercusuar.

Berdasarkan data pasar, rupiah tercatat menembus Rp17.600 per dolar AS pada Jumat, 15 Mei 2026, "menciptakan rekor tertinggi baru sepanjang sejarah". Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menunjukkan kurs sempat menyentuh "rekor terlemah sepanjang sejarah di Rp17.514 pada Selasa" sebelum sedikit menguat ke Rp17.496 pada Rabu. 


Dampak Langsung Dari Industri ke Meja Makan

Pelemahan ini tidak berhenti di pasar valuta asing. DPR dan ekonom mengingatkan risiko imported inflation yang nyata.

Data Kementerian Perindustrian yang dikutip dalam rapat dengar pendapat menyebutkan "sekitar 70% bahan baku manufaktur nasional masih berasal dari impor" dan "biaya bahan baku ini menyumbang hingga 55% dari total struktur biaya produksi". Dengan rupiah di atas Rp17.600, "industri seperti otomotif, elektronik, dan farmasi mengalami kenaikan beban biaya input tertinggi dalam 4 tahun terakhir". 

Ekonom memperkirakan penyesuaian harga akan terjadi bertahap. "Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak".

Sinyal tekanan sudah terlihat pada data pangan awal Mei. Dewan Ekonomi Nasional mencatat pada Minggu ke-1 Mei 2026:

Minyak goreng curah naik 9,5%, kemasan naik 5,8%–6,7%

Secara tahunan, daging ayam naik 10,8%, minyak goreng curah 9,8%, dan bawang merah 9,3%.

Pendorongnya adalah "kenaikan harga CPO dan minyak global akibat konflik Timur Tengah, serta kenaikan biaya kemasan (plastik) akibat gangguan pasokan nafta". 

Di sektor energi, PT Pertamina menyesuaikan harga BBM nonsubsidi per 15 Mei 2026. Di Sumatera Utara, Pertamax dipatok Rp12.600 per liter, Pertamax Turbo Rp20.350, dan Dexlite Rp26.600, sementara Pertalite dan Biosolar ditahan di Rp10.000 dan Rp6.800. Kenaikan ini, menurut Pertamina, terutama terjadi pada produk berkualitas tinggi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. 

Respons Kebijakan: BI Tahan Bunga, Cadangan Devisa Digunakan

Bank Indonesia memilih mempertahankan BI Rate 4,75% dalam RDG Mei 2026, dengan alasan "untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah tahun ini". 

Inflasi inti masih terjaga. BPS mencatat inflasi IHK April 2026 turun menjadi 2,42% YoY dari 3,48% bulan sebelumnya, berada dalam rentang target 2,5%±1%.

Untuk meredam volatilitas, BI mengintervensi pasar valas. Cadangan devisa akhir April 2026 tercatat "tetap tinggi sebesar 146,2 miliar dolar AS, meskipun menurun dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2026 sebesar 148,2 miliar dolar AS". Posisi tersebut "setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah", di atas standar internasional 3 bulan. 

Mengapa Habibie Kembali Relevan ? 

Video viral itu merekam Habibie menjelaskan keputusan paling beratnya pada 1998: menghentikan proyek pesawat N-250.

"Saya kan menghadapi inflasi tinggi, suku bunga tinggi... nilai rupiah anjlok hanya 20% dari nilainya. Sudah melampaui Rp15.000 mau ke Rp20.000. Orang antri, makanan kurang. PHK banyak. Itu kan lebih penting dari pesawat terbang."

Konteks historisnya akurat. Saat dilantik, "perekonomian Indonesia porak poranda. Rupiah jatuh ke titik terendah, cadangan devisa terkuras, inflasi melambung". Habibie menempuh tiga langkah: restrukturisasi perbankan, memisahkan BI dari pemerintah, dan kebijakan moneter ketat lewat SBI berbunga tinggi.

Hasilnya terukur. Suku bunga SBI yang sempat 70% ditekan ke belasan persen, inflasi turun drastis ke sekitar 2% pada 1999. Rupiah yang "sempat terjun bebas ke Rp16.800 per dolar AS juga berhasil kembali stabil di kisaran Rp7.000–Rp8.000".

Data Pembanding 1998 vs 2026

Data Keuangan Nilai Tukar
|| Sumber: BI, BPS, Arsip 1998 ||

Perbedaan fundamental 2026 dibanding 1998 adalah fondasi makro. Cadangan devisa 10 kali lipat, inflasi rendah, dan BI independen — warisan langsung kebijakan Habibie 1999. Namun, kerentanan struktural tetap sama: ketergantungan impor bahan baku 70% membuat pelemahan rupiah cepat diteruskan ke harga.

Pesan "ngalah untuk menang" dalam video tersebut bukan ajakan menghentikan pembangunan, melainkan penegasan sequencing kebijakan: stabilisasi daya beli terlebih dahulu. Pada 1998, itu berarti mengorbankan N-250. Pada 2026, itu berarti menahan belanja non-prioritas sambil menjaga subsidi pangan dan energi.

Bank Indonesia menyatakan akan "terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal". Publik, seperti terlihat dari viralnya video Habibie, tampaknya menuntut hal yang sama: kebijakan yang menempatkan rakyat sebagai pemenang, bukan proyek.


————————————————————————

Penulis: Daniel Priando
Editor: Tim Redaksi RBN Sumut

RUANG BERITA NUSANTARA SUMUT

RUANG BERITA NUSANTARA SUMUT Portal berita independen yang menyajikan informasi aktual, tajam, dan terpercaya seputar Sumatera Utara. Fokus kami pada isu pemerintahan, ekonomi kerakyatan, pertanian, hukum, dan kebijakan publik. Mengawal Sumatera Utara dengan jurnalisme berimbang dan berpihak pada kepentingan masyarakat. Hubungi tim jurnalis: ruangbacanusantara@gmail.com| Sumatera Utara

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama